mirandapos.com, SIJUNJUNG – Bagi Ilham Priduan Zulfira, pendidikan dan kepemimpinan organisasi tidak seharusnya berhenti di ruang kampus. Pengetahuan yang diperoleh dari dunia akademik harus mampu dibawa keluar untuk menjawab persoalan nyata dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Prinsip itulah yang menjadi perjalanan Ilham, mulai dari *kepemimpinan organisasi mahasiswa, aktivitas akademik dan advokasi, hingga terjun langsung ke tengah masyarakat sebagai praktisi sekaligus konsultan perkebunan kelapa sawit*.
Pria asal Nagari Lubuk Tarantang, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, tersebut merupakan lulusan *Sarjana Pertanian Universitas Andalas* dan saat ini melanjutkan pendidikan *Magister Manajemen di Universitas Dharma Andalas* dengan konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia.
*Berawal dari Kepemimpinan Organisasi*
Perjalanan kepemimpinan Ilham berkembang ketika ia dipercaya menjadi *Ketua Umum HMI Cabang Dharmasraya periode 2021–2023*.
Di ruang organisasi mahasiswa, ia tidak hanya menjalankan fungsi internal organisasi, tetapi juga aktif membawa isu-isu mahasiswa dan masyarakat ke ruang publik. Advokasi pembangunan daerah, pemberdayaan masyarakat, kepemudaan dan berbagai persoalan sosial menjadi bagian dari aktivitasnya.
Pengalaman tersebut memperluas jejaring Ilham dengan pemerintah, mahasiswa, organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat dan berbagai elemen lainnya.
Kiprahnya kemudian berlanjut di tingkat Sumatera Barat. Ia dipercaya sebagai *Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah BADKO HMI Sumatera Barat periode 2024–2026* serta *Koordinator Wilayah Sumatera Barat Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) periode 2025–2027*.
Di tingkat lokal, Ilham juga aktif bersama *Gerakan Pemuda Inspiratif (GPI) Kamang Baru*, khususnya dalam kegiatan sosial, pendidikan, olahraga, kreativitas dan pemberdayaan pemuda.
*Ilmu Kampus Dibawa ke Tengah Masyarakat*
Latar belakang sebagai Sarjana Pertanian membuat aktivitas Ilham kemudian tidak hanya berada pada ruang diskusi organisasi dan akademik.
Ia mulai membawa pengetahuan pertanian yang diperoleh di bangku kuliah ke dalam praktik lapangan, khususnya pada sektor perkebunan kelapa sawit yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat di daerahnya.
Pengalaman langsung dalam mengelola tanaman membuat Ilham mengembangkan kemampuan dalam *menganalisis pertumbuhan tanaman, kondisi kebun, kebutuhan nutrisi, pemupukan, pemeliharaan serta efisiensi pengelolaan perkebunan*.
Pengalaman tersebut kemudian mendapat kepercayaan dari *KUD Tani Berkah Sejahtera*, tempat Ilham berperan sebagai praktisi sekaligus konsultan perkebunan.
Dalam peran tersebut, ia memberikan analisis dan rekomendasi teknis, terutama terkait kondisi tanaman dan kebutuhan nutrisi serta pemupukan
*Dari Pengalaman Pribadi Menjadi Pengetahuan yang Dibagikan*
Salah satu pengalaman yang menjadi perhatian petani di sekitarnya adalah keberhasilannya mengelola tanaman kelapa sawit hingga memasuki panen perdana pada usia sekitar *28 bulan* setelah tanam.
Pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi. Ilham menjadikannya sebagai pembelajaran yang dapat diterapkan dan dikembangkan bersama petani.
Menurutnya, pengelolaan perkebunan membutuhkan lebih dari sekadar pengalaman turun-temurun. *Data kondisi tanaman, ketepatan nutrisi, pemeliharaan, efisiensi biaya dan keputusan teknis* perlu menjadi bagian dari pengelolaan kebun agar produktivitas dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.
Di titik inilah pengalaman akademik dan kepemimpinan organisasi bertemu dengan kebutuhan masyarakat.
*Kepemimpinan yang Berujung pada Dampak*
Perjalanan Ilham memperlihatkan pergeseran dari *ruang organisasi menuju ruang pengabdian yang lebih praktis*.
Jika sebelumnya gagasan dan advokasi disampaikan melalui forum mahasiswa dan organisasi, kini sebagian pengetahuannya diterapkan langsung melalui pendampingan dan konsultasi di bidang perkebunan.
Ia juga terus mengembangkan kapasitas melalui pendidikan Magister Manajemen, dengan perhatian pada pengembangan sumber daya manusia, kepemimpinan dan pengelolaan organisasi.
Bagi Ilham, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diemban, tetapi dari sejauh mana ilmu, jaringan dan pengalaman yang dimiliki mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Dari kampus, organisasi, ruang advokasi hingga perkebunan, ia berusaha membangun satu garis perjuangan: *mengubah pengetahuan menjadi tindakan dan pengalaman menjadi solusi yang dapat dirasakan masyarakat.*
Prinsip tersebut dirangkum dalam personal brand yang menjadi arah kiprahnya:
“Menggabungkan ilmu, kepemimpinan, dan pengalaman lapangan untuk menghasilkan solusi yang berdampak.”


