mirandapos.com, Oleh : Roland Mangkuto sutan – Tidak begitu jauh dari kaki Gunung Talamau yang merupakan gunung tertinggi dan terbersih di Sumatra Barat, tepatnya di kecamatan talamau Kabupaten Pasaman Barat, Sebuah hamparan hijau terbentang luas dengan landscape nya yang begitu indah dan menawan hati. Ini lah kawasan Hutan Nagari Sinuruik, sebuah kawasan yang terletak di ujung kabupaten Pasaman Barat yang ternyata nadinya sudah berdenyut semenjak ratusan tahun silam.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa nagari Sinuruik sebagai nagari Adat diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1500 Masehi. Jauh sebelum kemerdekaan negara Republik Indonesia, bahkan sejak masa kejayaan kerajaan-kerajaan terdahulu, tanah ini sudah menjadi rumah bagi manusia – manusia yang telah berhasil hidup berdampingan dengan alam. Tidak heran jika hingga kini sebagai masyarakat adat yang memiliki sistem ” babingkah adaik ” dimana Harta pusaka tinggi atau Tanah Ulayat tidak bisa diperjualbelikan dengan mudah, nagari Sinuruik merupakan nagari dengan kawasan hutan terluas di seluruh Pasaman Barat dengan sistem adat istiadat yang masih mengakar kokoh di tengah kehidupan masyarakat.
KOMITMEN MASYARAKAT DI TENGAH DERU PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
Yang membuat Sinuruik begitu istimewa dan berbeda adalah cara berfikir dan keteguhan masyarakat adat dalam menjaga kawasan hutan. Di saat banyak dan maraknya daerah – daerah sekitar yang merubah wajah hutan mereka menjadi hamparan perkebunan monokultur yakni kelapa sawit dengan dalih perbaikan ekonomi nagari Sinuruik tetap berdiri sebagai benteng kokoh yang tak tergoyahkan. Hutan nagari sinuruik tetap dijaga agar selalu murni dan asli. Meski seiring berjalannya waktu kesadaran itu mulai memudar dari dalam hati sanubari para generasi penerus.
Tentu saja dulunya Ini bukan lah sekedar sebuah kebetulan namun ini semua adalah sebuah pilihan yang dilandasi kesadaran tinggi dari para tokoh dan para pendahulu. Masyarakat lebih memilih menjaga keseimbangan alam demi masa depan, daripada mengorbankan hutan hanya karena keuntungan sesaat. Hutan sinuruik saat ini adalah “paru-paru” terakhir yang mensuplai oksigen segar dan air bersih, menjadi penyejuk bagi seluruh wilayah Pasaman Barat dan juga dunia. Sebagai contoh kasus dahulu kala di zaman kolonial Belanda Tuanku Nan Sati pernah melarang pembangunan sebuah jembatan yang menghubungkan Kp. Tombang dengan nagari Muaro kiawai dengan alasan agar Belanda tidak bisa leluasa menguasai emas yang terdapat di Kp. Tombang. Dan saat itu masyarakat diizinkan menambang emas dengan cara tradisional yakni mendulang. Cerita ini adalah sebuah bentuk komitmen seorang penguasa dalam menjaga dan melindungi kawasan hutan agar tetap lestari dan berkelanjutan.


